Pandemi virus corona atau covid-19 sudah menjadi kata atau istilah yang familiar bagi kita. Baik itu dari anak-anak hingga para orangtua, virus ini mampu menyebar rasa ketakutan dan was-was dari awal masa kemunculannya hingga saat ini.
Sebagian besar masyarakat pun sudah mengalami betapa hebatnya dampak yang ditimbulkan oleh wabah virus ini. Mulai dari aspek pendidikan, kesehatan, perekonomian, bahkan apapun yang sudah kita rancangkan dengan matang sebelumnya semua menjadi berjalan secara tidak lancar.
Masalah perekonomian patut mendapatkan perhatian sebab erat kaitannya dengan tingkat angka kemiskinan di suatu tempat atau wilayah.
Sebelum wabah menyerang, Bappeda Kota Palangka Raya melalui websitenya tentang profil daerah Palangka Raya menyebutkan bahwa persentase kemiskinan di Palangka Raya mengalami penurunan dari 3,47 persen (2018) menjadi 3,35 persen (2019), Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di Palangka Raya pada tahun 2019 berada di angka 0,43 sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) pada tahun 2019 berada pada angka 0,09.
Menurut data Badan Pusat Statistik Kota Palangka Raya, pada bulan September 2019, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Kalimantan Tengah mencapai 131,24 ribu orang (4,81 persen), berkurang sebesar 3,35 ribu orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2019 yang sebesar 134,59 ribu orang ( 4,98 persen), Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2019 sebesar 4,47 persen turun menjadi 4,28 persen pada September 2019.
Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2019 sebesar 5,33 persen turun menjadi 5,17 persen pada September 2019. Dari data tersebut kita bisa melihat bahwa pada tahun 2019 angka kemiskinan di provinsi Kalteng menurun dibanding pada tahun 2018, sehingga kita bisa melihat bahwa pada tahun 2019 segala macam aktivitas perekonomian di Kalteng menunjukkan hal yang positif dan menekan angka kemiskinan.
Pandemi covid-19 ini mulai menyerang Indonesia pada bulan Maret 2020 dan imbasnya pada perekonomian kita adalah pergerakan ekonomi menjadi lesu karena lemahnya daya beli masyarakat.
Ruang gerak masyarakat dibatasi oleh karena diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Besar-Besaran) yang diberlakukan pemerintah sebagai upaya pencegahan penyebaran virus.
Di satu sisi, kita harus menaati peraturan tersebut demi menurunkan angka penyebaran virus dan mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi. Namun di sisi lain, ini menyebabkan ketakutan masyarakat untuk melakukan aktivitas ekonomi, seperti jual beli di pasar.
Ditambah lagi, angka pengangguran meningkat, sehingga menyebabkan berkurangnya pemasukan di masa pandemi. Dikutip dari website Media Center Palangka Raya, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Palangka Raya, Mesliani Tara menyebutkan sebanyak 2055 orang pekerja dari 137 perusahaan maupun bidang usaha di kota setempat telah dirumahkan.
Sedangkan pekerja yang terkena PHK ada sebanyak 160 orang dari 29 perusahaan maupun bidang usaha selama masa awal pandemi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Palangka Raya, pada bulan Maret 2020 penduduk miskin di Provinsi Kalimantan Tengah mencapai 132,94 ribu orang. Sedangkan jumlah penduduk miskin di Kalimantan Tengah pada September 2020 tercatat mencapai 141,78 ribu orang. Jumlah tersebut meningkat 8,8 ribu orang dibandingkan dengan Maret 2020.
Pada wilayah perkotaan, persentase penduduk miskin Maret 2020 sebesar 4,62 persen dan pada periode yang sama, persentase penduduk miskin di perdesaan meningkat menjadi 5,50 persen.
Kemiskinan di masa pandemi
menurut Badan Pusat Statistik dan Departemen Sosial, kemiskinan adalah keadaan saat ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Jauh sebelum adanya pandemi covid-19, kemiskinan sudah menjadi salah satu masalah global, khususnya bagi negara berkembang.
Pengentasan kemiskinan perlu diberlakukan demi meningkatkan taraf hidup masyarakat sehingga dapat memiliki kehidupan yang lebih baik serta demi peningkatan pembangunan nasional suatu negara.
Di masa sekarang, yang menjadi fokus pemerintah adalah bagaimana dapat membangkitkan perekonomian nasional yang sempat terpuruk akibat pandemi. Seperti yang kita ketahui bahwa pandemi covid-19 ini masih nyata ada di tengah-tengah kita, sehingga jangan sampai segala aktivitas perekonomian dalam upaya perbaikan ekonomi malah membuat lonjakan kasus positif covid-19 dan menyebabkan lebih banyak lagi jatuhnya korban.
Ada beberapa bantuan yang telah diberikan pemerintah kepada masyarakat yang terdampak pandemi, yakni program Kartu Prakerja, penyaluran sembako, BLT, listrik gratis hingga subsidi gaji karyawan.
Di tengah masa bertahan hidup selama pandemi ini, diperlukan sinergi yang baik antar berbagai pihak. Masyarakat diharapkan untuk dapat memanfaatkan bantuan yang disediakan pemerintah dengan sebaik mungkin serta dapat mengembangkan potensi berwirausaha dan pengembangan diri selama masa pandemi.
Pemerintah dalam hal ini diharapkan untuk dapat membaca peluang yang ada sehingga dapat menjaga atau bahkan meningkatkan daya beli masyarakat selama pandemi. Selain itu, terjaminnya kebutuhan sembako atau bahan pokok bagi masyarakat kelas ekonomi menenga ke bawah menjadi salah satu hal yang sangat penting dan mendasar untuk dilakukan.
PENULIS : Cenri
Mahasiswa Program Pascasarjana UPR