Biografi Pelda (Purn) TNI AD (Alm) UGAN LADUNG Dari Tahun 1928 s/d 1998

Pada Masa Hindia Belanda

Pada tahun 1928, tepatnya di Desa Mandomai di daerah aliran sungai Kapuas, Kalimantan Tengah (sekarang), waktu masih dalam masa pendudukan Belanda di Indonesia dari Pasutri keluarga petani yang bernama Ladong (ayah) dan Ibunya yang bernama Kinang, lahir seorang anak yang berjenis kelamin laki-laki dan diberi nama Oegan Ladong (Ugan Ladung). Selanjutnya 3 tahun kemudian, pada tahun 1931 lahir adiknya bernama Beni Ladong. Mereka hanya dua orang bersaudara saja. Pada masa kecilnya Ugan Ladung yang dipanggil Oegan (Ugan) dalam usia 9 tahun Oegan (Ugan) masuk bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) Pada Tahun 1937 dan Ugan Ladung dan menyelesaikan pendidikannya selama  5  tahun dan Tamat  tanggal 15  Juli 1942.

 Pada Masa Pedudukan Jepang

Ugan Ladung sebagai anak pertama yang lahir dari keluarga miskin dan sangat sederhana dengan penghasilan hidup keluarganya yang serba kekurangan, karena pekerjaan orangtuanya hanya berkebun dan bertani secara musiman dan keadaan kehidupan masyarakat bangsa saat itu ekonomi sangat sulit dalam masa penjajahan Bangsa Jepang. Sehingga memaksa Ugan Ladung yang berusia kurang lebih 15 tahun dan masih remaja, setamatnya dari Sekolah Rakyat (SR) Ugan Ladung berangkat merantau untuk mencari pekerjaan ke Banjarmasin. Setiba di Banjarmasin Ugan Ladung berpikir bagaimana berusaha mendapatkan uang untuk bertahan hidup dengan bermodalkan gunting dan cukur beliau menjadi tukang cukur rambut dan hampir selama 1 tahun. Pekerjaan itu dijalaninya karena berkat, kesabaran dan kegigihannya ternyata dapat membuahkan hasil. Pada bulan Juli 1943, Ugan Ladung mendapatkan pekerjaan tetap di Kantor Minami Borneo Kristo Kjo Kjo kai di Banjarmasin dalam usia kurang lebih 15 tahun sebagai Opas kantor dan diberikan gaji perbulan sebesar Rp 20 (Dua Puluh Rupiah) Terhitung 1 Juli 1943 atau 1 Chi Gatsu 2603. Dalam kurung waktu selama 3 (tiga) tahun bekerja sebagai Opas pada Kantor Minami Borneo Kristo Kjo Kjo kai, Ugan Ladung telah menjalani tugasnya dengan setia sebagai Opas pada Kantor tersebut.

Kemudian pada bulan Juli 1945, Ugan Ladung mendapatkan Kabar dari kampungnya di Mandomai bahwa keadaan ayahnya (Ladong) sedang sakit, sehingga demi berbakti dan melayani kepada orang tuanya (ayahnya), dia memutuskan harus rela dan memilih berhenti dari pekerjaannya dan mengajukan Surat pengunduran diri bekerja dan keluarlah Surat Pemberhentian No. 103 tanggal 31- 7 – 2603 atau 31 Juli 1945.

Pada masa Proklamasi Kemerdekaan Negara RI Tahun 1945 s/d Penerimaan Kedaulatan Negara  RI Tahun 1949

 Setibanya di Mandomai dari Banjarmasin, Ugan Ladung melakukan aktifitas kehidupan seperti biasanya dan merawat orang tuanya yang sakit, dan akhirnya meninggal dunia pada Tahun 1945 di Desa Mandomai. Ugan Ladung kembali melanjutkan pekerjaan ayahnya membantu ibunya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dengan bertani dan berkebun. Pada Bulan Nopember 1946, dalam usianya  kurang lebih 18 tahun, Ugan Ladung diajak oleh Djili Ngantung yang juga pamannya sendiri untuk bergabung berjuang bersamanya dalam gerakan Divisi IV. (A) ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) di Mandomai. Pangkalan 3 Pimpinan Djili Ngantung dibawah Komando Gubernur Tentara Kalimantan Selatan di bawah Pimpinan Hasan Basri, Ugan Ladung bersedia menerima ajakan pamannya. Sehingga tanggal 17 Nopember 1946, Ugan Ladung menerima surat  pengangkatan sebagai Polisi Keamanan Pangkalan 03 yang berkedudukan di Mandomai dengan Surat No. VI Tgl 17-11-II Rep tanggal 27 Nopember 1946 dan Ugan Ladung dilantik dengan mengucapkan ;

Baca Juga :  Pulpis Bakal Peroleh Program Mitigasi Bencana

Ikrar  Sekali  Merdeka tetap dituntun Sumpah Setia dan Janji Bakti ;

  1. Tunduk dan berhikmat pada tiap-tiap peraturan perintah dari Pimpinan yang selaras dengan anggaran dasar;
  2. Taat dan setia pada Pimpinan dengan hati cuti iklas serta pikiran yang sehat;
  3. Beradab sopan santun dan ramah pada rakyat berperikemanusiaan sebagai lambang keluhuran bangsa dan agama;
  4. Tidak menghianati, tidak akan melanggar perintah serta tidak menghabui rakyat dan gerakan (Pimpinan) untuk keuntungan diri sendiri;
  5. Tidak akan memasuki gerakan lain selain gerakan Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan Selatan

Setelah mengikrarkan Sumpah Setia dan Janji Bakti, Ugan Ladung menanda tangani surat pengangkatannya dan membubuhkan tanda cap jempolnya sendiri pada bait terakhir kata Sumpah Setia dan Janji Bakti sebagai tanda kesungguhan dan dengan sepenuh hatinya dalam menerima dan menjalankan tugas bersama gerakan  Divisi IV. (A) ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia), Pimpinan DjiliNgantung dibawah Komando Gubernur Tentara Kalimantan Selatan di bawah Pimpinan Hasan Basri. Dalam mengawali tugas barunya tersebut Ugan Ladung mendapatkan beberapa pengalamannya pertama yang pernah beliau ceritakan dan ungkapkan, bahwa pada awalnya Ugan Ladung menjalani tugasnya dan tanpa dibekali dengan pendidikan dan pelatihan khusus dalam menggunakan senjata dan hanya diajari disaat-saat mau berangkat dalam melakukan perlawanan terhadap musuh saat itu. Dalam setiap perlawanan yang mereka lakukan bersama rekan-rekannya banyak dilakukan pada malam hari, dini hari ataupun dilakukan dengan secara sembunyi-sembunyi.

Sebelum melakukan perlawanan terhadap musuh mereka secara rahasia telah mengirimkan beberapa orang sebagai mata-mata untuk memantau kekuatan dan tempat musuh dan mengingat peralatan/ perlengkapan persenjataan yang mereka punyai dan gunakan saat itu masih sangat terbatas, bahkan sangat sederhana dan sangat jauh bila dibandingkan dengan perlengkapan,  persenjataan yang dimiliki oleh musuh saat itu sehingga setiap pergerakan dan perlawanan terhadap musuh harus  diperhitungan tepat, cermat, hemat. Seperti hal dalam menggunakan peluru bila menembak musuh kala itu, setiap anggota disarankan satu peluru harus mengenai satu sasaran musuh itupun harus sesuai perintah pimpinannya. Dalam melalukan pergerakan dan perlawanan terhadap musuh yakni Belanda waktu itu, mereka lakukan bersama dengan rekan-rekannya dengan gerakan secara berpindah-pindah masuk kampung keluar kampung dan menyusuri hutan, rawa, sungai dan lautan, bahkan pernah hampir 3 bulan tidak pernah melihat daratan dan perkampungan. Dalam usaha dan upaya mereka bersama sama rekan-rekannya melakukan pergerakan dan perlawanan terhadap Belanda saat itu yang ingin kembali menguasai dan menjajah Kalimantan.

Selama dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun Ugan Ladung menjalani tugasnya tersebut bersama dengan rekan-rekannya untuk melakukan perlawanan terhadap musuh waktu itu, dengan penuh semangat dan menggelorakan semboyan sekali merdeka tetap merdeka dan mereka selalu melakukan perlawanan bersama dalam gerakan Divisi IV (A) ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) pada Pangkalan 3 di Mandomai di Pimpinan oleh Djili Ngantung dibawah Komando Gubernur Tentara Kalimantan Selatan di bawah Pimpinan Hasan Basri dan pada tanggal 18 Agustus 1949 di Mandomai, Ugan Ladung diresmikan menjadi Anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat di bawah Pimpinan J. Penjang dan digabungkan dengan S.T.M. II dibawah Pimpinan Kapten Molijono di Daerah Dayak Besar Kotawaringin jabatannya sebagai anggota regu.

Baca Juga :  Nasib Pansus Covid-19 DPRD Kotim Ada di Tangan Banmus

Selanjutnya pada tanggal 21 Agustus 1949  Ugan Ladung dikirim ke Kamp Pahandut untuk mengikuti training/ latihan Infantri yang pertama di bawah Pimpinan Haji Bakarie dengan Komandan Batalyon Alfreid Dengus dan pada tanggal 27 Desember 1949 disaat masih dalam mengikuti Training Ugan Ladung bersama-sama dengan rekan-rekannya di Kamp Pahandut mengikuti acara Perayaan Penerimaan Kedaulatan Negara kita Republik Indonesia dalam acara tersebut dihadiri oleh Para diantaranya Overta Sukanda Barata manggala, Hasan Basrie, Molijono,Sitompol dan beberapa  perwira lainnya.

 Masa setelah penerimaan kedaulatan NKRI tahun 1949 sampai dengan  masa Ugan Ladung pensiun tahun 1973

 Pada tanggal 1 Januari 1950, Ugan Ladung telah menanda tangani Ikatan Dinas di Kamp Pahandut selama 3 (tiga) tahun sebagai Anggota Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Setelah beliau mengikuti pendidikan dan training  Infantri angkatan pertama I selanjutnya pada tanggal 2 April 1950 Ugan Ladung ditugaskan dalam kesatuan ke 27 Teritorial III Kuala Kapuas di bawah Pimpinan H. Bakarie dengan Jabatan Wa Dan Ru sampai dengan tanggal 14 Juni 1950. Pada tanggal 15 Juni 1950 Ugan Ladung kembali mengikuti training pendidikan latihan II di Kamp Ulin Km 25 Banjarmasin dibawah Pimpinan Letnan Hamdani, Kapten Nasarudin Nasution dan Mayor Abdul Rachman dan berakhir tanggal 1 Januari 1951 selanjutnya ditugas sebagai Wa Dan Ru Garnisun di Banjarmasin dan pada tanggal 17 September 1951 mengikuti kursus mengetik sepuluh jari di Sedar Banjarmasin dengan berhasil lulus.

Pada tanggal 15 Pebruari 1952 ditugaskan mengikuti Operasi Pemulihan Keamanan di Hulu Sungai Selatan yang dipimpin oleh E.A.Tuak dengan Jabatan sebagai Wa Dan Ru sampai dengan tanggal 23 Juli 1952. Selanjutnya pada tanggal 7 Mei 1952 ditugaskan kembali untuk mengikuti operasi pemulihan keamanan lanjutan di daerah Kota Baru Kalselteng dibawah Pimpinan Letda Moch Ali Usman dengan Jabatan sebagai Penembak Mortir sampai dengan tanggal 14 Juli 1952 dan pada tanggal 15 Juli 1952. Selanjutnya keluar Surat Perintah Panglima T.T. VI bahwa Kompi III dibawah Pimpinan Letda Moch Ali Usman Resimen 21 dan dipindah tugaskan ke Res 22/VI Kaltim di Balikpapan. Pada tanggal 1 Januari 1953 telah menandatangani Ikatan Dinas selama 3 (tiga) tahun kedua II Anggota Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) dan ditugaskan dari Res 22/VI Kaltim ke Banjarmasin dari tanggal 26 Juni 1953 sampai dengan 11 Agustus 1954, selanjutnya pada tanggal 12 Agustus 1954 diperintahkan kembali ke Balikpapan untuk mengikuti S.B.T.C.R.I 22/VI angkatan IV di Sepingan Balikpapan untuk mengikuti Latihan Lanjutan III. Pada tanggal 15 Oktober 1954 dinaikan pangkatnya dinaikan pangkatnya dari Prada ke Pratu dan dipindah tugaskan ke Kompi III/602/22/VI.

Pada tanggal 4 Desember 1954, Ugan Ladung ditugaskan kembali mengikuti operasi pemulihan keamanan di Jawa Barat Daerah Indramayu sampai dengan tanggal 8 Nopember 1957 dengan Jabatan sebagai penembak mortir. Selanjutnya di Indramayu mengikuti kursus bahasa Inggris tertulis di Haurguelis di Jawa Barat dan berhasilnya lulus, tanggal 5 Januari 1957 maka dari kelompok Penembak Mortir pindah tugaskan sebagai Pengawas Gudang Kie III Yon 602.

Baca Juga :  Tekan Pernikahan Dini, Peran Orang Tua Sangat Penting

Pada tanggal 15 Juni 1958 dan naik pangkat dari Pratu menjadi Praka. Selanjutnya pada tanggal 8 Agustus 1958 dikirim kembali untuk mengikuti operasi pemulihan keamanan ke Sumatera daerah Tapanuli Tengah sebagai penembak mortier Kompi Gerakan Semut III/602 sampai dengan tanggal 20 Nopember 1959 dan setibanya kembalinya dari operasi di Sambas Kalimantan Barat pada tanggal 19 Maret 1958 Kopda Ugan Ladung menerima tugas menjabat sebagai FoarierKie III/602/VI selanjutnya pada tanggal 1 Juni 1959 dari Kompi III/602 dipindah ke I/602 dengan Jabatan sebagai Wa Dan Ru.

Pada tanggal 9 Nopember 1959 ditugaskan kembali untuk mengikuti operasi pemulihan keamanan ke Sulauwesi Tenggara Daerah Palopo yang tergabung dalam Kompi Gerakan IV/602/ Semut sampai dengan tanggal 22 Juni 1960. Pada tanggal 25 Desember 1960 Kopda Ugan Ladung Jabatan FourierKie III/602/Semut Dam XII melaksanakan serah terima tugas ke Koptu Sandie selanjutnya Kopda Ugan Ladung dipindah tugaskan ke Kompi II/602 menjabat sebagai FourierKie II/602/Ramaja.

Pada tanggal Januari 1961 bergabung dalam Kie II/Ramaja dan kembali berangkat ditugaskan untuk mengikuti Operasi pemulihan keamanan di Daerah Toli-Toli Sulauwesi  Tengah dan setibanya dari Toli-Toli Sulauwesi Tengah di Balikpapan ditugaskan dengan Jabatan FourierKie II/602/ Ramaja.

Pada tahun 20 Januari 1962 menerima Instruksi dari Gubernur Kalimantan Tengah Bapak Tjilik Riwut melalui telegram dengan Instruksinya bagi setiap Putera dan Puteri Daerah Kalimantan Tengah yang sedang bertugas dan berada diluar Provinsi Kalimantan Tengah diharapkan untuk kembali ke Daerahnya di Provinsi Kalimantan Tengah untuk mengabdikan dirinya ke Daerah asalnya di Kalimantan Tengah. Berdasarkan Instruksi Gubernur tersebut,  Ugan  Ladung kembali dan dipindah tugaskan ke Markas Kodam XI Tambun Bungai.

Kemudian pada tahun 1962 menerima ditugaskan ke Kecamatan Palingkau dan menjabat sebagai Puterpra (Danramil), sampai dengan tahun 1964. Selanjutnya tahun 1965 dipindah tugaskan ke Kecamatan Sepang dan menjabat sebagai Puterpra sampai dengan tahun 1967. Lalu pada bulan Juni 1967 menerima surat panggilan untuk mengikuti Pendidikan Bintara Teritotial Angkatan I di Palangka Raya dari tanggal 9 Juni s/d 30 Agustus 1967 dengan berhasil Lulus. Kemudian pada tahun 1968 ditugaskan sebagai Puterpra (Danramil) Kecamatan Banama Tinggang di Bawan dengan tugas merangkap Jabatan sebagai Puterpra (Danramil) Kecamatan Sepang.  Selanjutnya, Pada tahun 1969 dipindah tugaskan ke Kecamatan Tewah sebagai Puterpra (Danramil) sampai dengan tahun 1972 dan pada tahun 1972, Ugan Ladung dipindah tugaskan ke Kecamatan Kahayan Tengah sebagai Puterpra (Danramil) di Bukit Rawi, dan sampai dengan tahun 1973 dan Surat Keputusan Kepala Staf Tentara Nasional Angkatan Darat Panglima Daerah Militer XI/ Tambun Bungai Nomor SKEP/ 112/UU.6/XII/1973 tanggal  12 Desember 1973, maka terhitung mulai bulan Agustus 1973,Ugan Ladung masa pensiun dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Dua (Pelda).

BACA JUGA