Walupun saya sudah bangun dari nyenyaknya tidur , namun karena hari Sabtu, ( 24 Juni 2023 ) , adalah hari libur dari aktivitas sebagai Kepala Pemberitaan Liputan 6 SCTV Kalteng, maka ketika jarum pendek jam berada pada angka delapan pagi , saya tetap berbaring santai sambil membuka Ponsel.
Saya terkejut karena di beberapa pesan Whatapp, salah satunya dari grup Alumni SMA 7 IPS satu Banjarnasin , tempat saya pernah bersekolah , menginformasikan kabar duka, berpulangnya sahabat kami Desmond Junaidi Mahesa, menuju Ke-Abadian.
Saya terakhir bertemu dengan Almarhum, tanggal 7 Januari 2023 lalu , Saat itu saya bersama Istri ada di jakarta lalu saya menghubungi Beliau, dan kami diundang ke rumahnya di jalan Saco, Jakarta Selatan.
Terus terang saya sempat terkejut saat bertemu dengan Beliau, karena kami diterima di kamar peribadinya ( Kamar tidur ) , dan saat itu, Almarhum masih menjalani terapi kesehatan di kursi pijat, karena habis keluar dari rumah sakit.
Saya katakan saat itu, “ Maaf Dangsanak, apabila kehadiran saya kurang pas waktunya, tetapi engga apa katanya, bahkan saya dan istri diajak makan siang bersama Almarhum dengan Istrinya serta satu orang anaknya.
Sambil makan siang, Almarhum bercerita kepada Istri dan anaknya, terkait pertemanan kami semasa sekolah di SMA 7 , Almarhum cerita cukup sering tidur dan makan di rumah saya dan berangkat sekolah bersama.
Saat sama-sama bersekolah di SMA 7 ( dulunya SMPP 28 ) tahun 1983 , Desmond cukup sering tidur di rumah kami, karena dia tinggal di Pasar Batuah jalan Manggis, dan Rumah Orang tua saya juga di jalan Manggis, sehingga kami sering berangkat sekolah bersama, dan Almarhum saya bonceng menggunakan sepeda motor butut Yamaha warna merah.
Saya Kagum atas perjuangan Almarhum dari nol dengan segala keterbatasan ekonomi mereka saat itu, dimana Ayahnya yang hanya seorang buruh kasar dan ibunya pedagang telur , namun tidak menyurutkan semangat Almarhum untuk terus berjuang.
Mengutif Tribunakalteng.com Sebelum menjadi politisi, Desmond J. Mahesa adalah aktivis dan menjadi bagian dari LBH Banjarmasin dan LBH Nusantara Jakarta. Bahkan, Desmon juga menjadi salah satu korban penculikan aktivis pada 1998 silam.
Ketika memasuki bangku kuliah, Desmond mencoba mandiri. Ia pernah menarik becak pada malam hari untuk biaya hidup dan kuliahnya. Saat menjadi mahasiswa, Desmond sangat aktif di berbagai organisasi.
Namanya mulai dikenal publik sejak menjadi satu dari sejumlah korban penculikan aktivis pro demokrasi pada tahun 1997-1998. Saat itu, dirinya tercatat sebagai aktivis dan mahasiswa yang berjuang menegakkan keadilan dan demokrasi pada masa pemerintahan Orde Baru.
Kembali kepertemuan terakhir saya dengan Almarhum , Karena Beliau adalah Wakil Ketua Komisi III DPR RI, yang salah satunya membidangi Hukum, maka diskusi kecil kami saat itu terkait penegakkan hukum di Republik tercinta ini, didepan istri saya Almarhum mengingatkan saya untuk hati hati dalam bertindak, karena dia pernah menjadi korban penculikan saat berbicara kebenaran dan menegakkan keadilan.
“ Rien, kamu harus hati-hati saat bertindak, ingat anak, istri dan cucu serta kamu harus atur masa depan untuk membahagiakan mereka “ pesannya saat itu.
Saat saya pamit pulang , Desmond memberi dua buku hasil karyanya, dengan judul “ MATINYA NARASI, PRESIDEN WONG CILIK “ Desmond berpesan, satu buku, kasih buat Baron Ruhat Binti, teman kuliahnya di Fakuktas Hukum Unlam Banjarmasin.
Hal yang sangat berkesan yang masih saya rasakan sampai sekarang , terkait Bantuan Almarhum untuk menegakkan hukum adalah Saat kami dan beberapa teman Wartawan menolong 3 orang warga Desa Tumbang kalemei, Kabupaten Katingan, yang diduga salah tangkap karena dituduh mencuri buah sawit milik salah satu perusahaan.
Setelah beberapa kali Liputan 6 SCTV Kalteng dan beberapa media lainnya beritakan terkait dugaan salah tangkap tersebut , namun ketiganya tetap ditahan.
Akhirnya saya menghubungi Almarhum dan menceritakan secara rinci hasil Investigasi dan Wawancara kami dengan nara sumber , bahwa ketiga waga Desa tersebut adalah diduga korban salah tangkap.
Puji Tuhan, Desmon bersedia membantu dan menghubungi salah satu Petinggi Aparat Penegak Hukum , serta meminta saya berkoordinasi dengan Kapolres setempat , dan akhirnya Bapak Kapolres bersedia menangguhkan penahanan ketiga warga Desa tersebut.
Terpuji Nama Tuhan, akhirnya melalui perjuangan lanjutan dan Bapak kapolri turun Tangan, Kasus salah tangkap tersebut dihentikan dengan keluarnya Surat Perintah Penghentian Penyidikan, atau Sp3.
Ketika berita duka ini saya sampaikan kepada salah satu keluarga korban salah tangkap yang merasakan kebaikan Almarhum, mereka langsung mengirim ucapan berduka , seperti ini “ Turut berduka cita , semoga Tuhan yang Maha Kuasa menempatkan yang terbaik atas segala perbuatan baik beliau selama hidup, atas nama keluar besar kami yang pernah merasakan pertolongan untuk mendapat keadilan, mengucap terima kasih yang setinggi tingginya, dan selamat jalan Bapak H. Desmond J. Mahesa. “
Selamat jalan Sang Pejuang yang selalu berani kritik siapa saja, baik itu Penguasa, Pengusaha, bahkan sesama Partai Politik. Selamat Jalan menuju Ke-Abadian dan tenang bersama Pemilik Kehidupan ini.
Penulis: Sadagori H. Binti ( Ririen Binti )