SAMPIT – Bahan bakar minyak (BBM) jenis premium alias bensin di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), setiap hari selalu mengalami kelangkaan dan sangat sulit didapat di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) yang banyak tersebar kabupaten setempat.
Hal ini terjadi, diduga lantaran pihak SPBU di Kotim hanya menjual premium itu kepada para pelangsir. Sehingga masyarakat umum yang inginekbeli premium untuk keperluan kendaraan pribadinya, tidak kebagian. Dalam hal ini, operator SPBU hingga manager, diduga turut andil dalam permainan bersama sejumlah pelangsir.
Menanggapi hal ini, Anggota Komisi I DPRD Kotim SP Lumban Gaol, mendesak pihak Pertamina supaya mengevaluasi penyaluran BBM jenis premium itu kepada SPBU di Kotim, karena dinilai sudah menyalahi aturan. Padahal jelas, premium itu adalah BBM yang disubsidi pemerintah untuk masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
“Namun faktanya, pihak SPBU di Kotim justru hanya melayani pelangsir. Contohnya, SPBU Jalan MT Haroyono, SPBU Pelita, SPBU Km 01 Bundaran KB, SPBU Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Tjilik Riwut, mereka lebih mengutamakan pelangsir ketimbang masyarakat biasa,” tandas Lumban Gaol di Sampit, Selasa (24/11/2020).
“Coba saja ke SPBU di Sampit, setiap kali ditanyakan, operatornya bilang habis premiumnya. Tapi parahnya, ketika mendekati sore atau menjelang maghrib, pada SPBU di Jalan Pelita itu terlihat banyak antrean pembelian premium,” sambungnya.
Dia sangat menyayangkan hal ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Alangkah baiknya pemerintah mencabut saja subsidi itu, karena hanya merugikan pemeritah. Karena sebagaimana yang diharapkan, BBM subsidi itu untuk masyarakat ekonomi menengah ke bawah, tapi selama ini justru diniknati oleh oknum-oknum yang mencari keuntungan pribadi. “Karena itu, saya mendesak pihak Pertamina dan penegak hukum, melakukan pengawasan ketat terhadap SPBU di Sampit,” tuturnya.
Berdasarkan pantauan di Sampit pada SPBU di Jalan Pelita dan Jalan MT Haryono, jam operasional untuk penyaluran premium yang katanya habis, terjadi pada sore hari menjelang maghrib. Pada waktu bersamaan, tampak banyak kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua yang membawa jerigen, antre untuk mengisi premium.
“Saya sudah beberapa kali mencoba mengisi premium, tapi kata operatornya sudah habis. Nah, ketika saya menelepon managernya, eh ternyata ada saja. Jelas ini adalah permainan mereka,” ujar Tomy, salah seorang warga Sampit.(red)