PALANGKA RAYA – Wakil Gubernur (Wagub) Kalteng H Edy Pratowo, mengungkapkan, saat ini vaksinasi Covid-19 dosis I di Kalteng sudah mencapai 70,74 persen.
“Untuk Kalteng kita bersyukur, saat ini kita sudah mencapai 70,74 persen untuk capaian vaksinasi dosis I. Saya berharap agar Pemerintah Daerah di Kalteng jangan lengah terhadap varian baru Omicron,” tutur H Edy Pratowo usai menghadiri penyampaian arahan Presiden RI dalam menghadapi varian baru Covid-19, varian Omicron, secara virtual dari Ruang Rapat Wagub Kalteng, Kamis (16/12/2021).
Sementara dalam arahannya, Presiden RI Joko Widodo, mengatakan, terdapat penurunan dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di daerah. Hal itu, terlihat dari menurunnya angka laju suntikan dalam enam minggu terakhir, yang sebelumnya bisa mencapai di atas dua juta pada 1 hingga 7 November 2021, atau turun menjadi 1,5 juta, dan hanya 1 juta pada 6 sampai 12 Desember 2021.
“Pemerintah bersama masyarakat harus waspada dan siap siaga terhadap penyebaran virus ini, seluruh Kepala Daerah bersama Forkopimda saya minta untuk kembali mempercepat vaksinasi. Saya minta pangdam, Kapolda, Pemerintah Daerah menggerakan lagi percepatan vaksinasi, karena akan sangat membantu memproteksi masyarakat dari Covid-19, baik varian Delta maupun Omicron,” imbuhnya.
Di samping itu, terdapat 20 provinsi yang capaian vaksinasi dosis I di bawah 70 persen. Padahal pada akhir 2021, sudah ditargetkan mencapai 70 persen dosis I. Mengingatkan Perdana Menteri Inggris telah mengumumkan ancaman berat Omicron, karena 60 persen kasus baru di London berasal dari varian Omicron.
Sebagaimana diketahui, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut B Pandjaitan pada Minggu (28/11/2021) dalam konferensi pers menyampaikan bahwa pemerintah merespon cepat atas merebaknya varian Covid-19, varian Omicron, yang baru-baru ini terkonfirmasi di beberapa negara.
Pasalnya, varian tersebut mengandung 50 mutasi yang memengaruhi kecepatan penularan dan kemampuannya untuk menghindari antibodi yang dibentuk vaksin. Namun itu semua masih terus dipelajari para ahli.
Bahkan dengan banyaknya mutasi itu, WHO telah meningkatkan status varian tersebut menjadi variant of concern (varian yang mengkhawatirkan. (MMC Kalteng/red2)